Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
05.47
Perencanaan Pembelajaran
Written By MI Ma'arif NU Karangnangka on Jumat, 01 November 2013 | 05.47
Pencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, serta rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai upaya pencapaian tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada.
perencanaan pembelajaran mengarah pada proses penerjemahan kurikulum yang berlaku. Sedangakan, desain pembelajaran menekankan pada merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa. Hal inilah yang membedakan keduanya. Perencanaan berorientasi pada kuriklum, sedangkan desain berorientasi pada proses pembelajaran.
Namun demikian, baik pengembangan perencanaan maupun pengembangan desain
pembelajaran keduanya disusun berdasarkan pendekatan sistem.[1] Jika
kita berbicara tentang sistem, maka tidak akan lepas dari yang namanya
unsur/komponen dan ciri-cirinya, serta bagaimana pendekatan sistem itu
dipalikasiakan dalam pembelajaran PAI. Oleh karena itu, Agar mengetahui
lebih lanjut mengenai Pendekatan dalam Sistem Pengajaran, akan
dipaparkan lebih detail dalam makalah ini.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa Pengertian Pendekatan dalam Sistem Pengajaran?
B. Apa Saja Unsur-unsur Sistem?
C. Apa Saja Ciri-ciri Sistem?
D. Bagaimana aplikasi Unsur-unsur dan Ciri-ciri Sistem dalam Pembelajaran PAI?
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendekatan dalam Sistem Pengajaran
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang
terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum.
Terdapat dua pendekatan terhadap pembelajaran yaitu yang berpusat kepada
guru (teacher centered approaches) dan yang berpusat kepada siswa
(student centered approaches).[2]
Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “systema” yang mempunyai
pengertian : 1. Suatu keseluruhan yang tesusun dari sekian banyak
bagian. 2 Hubungan yang berlangsung di antara satuan satuan atau
komponen komponen secara teratur. Dari kedua pengertian itu dapat di
tarik satu pengertian lagi bahwa sistem adalah suatu keseluruhan /
keutuhan yang terdiri atas sejumlah bagian, atau komponen yang saling
berhubungan secara teratur yang biasa juga disebut sebaga sub sistem.[3]
Istilah sistem sering didefinisikan suatu bangunan atau organisasi atau
lembaga yang terdiri dari sub komponen/elemen, yang berinteraksi,
berinterdependensi, dimana salah satu elemen/komponen rusak atau hilang
maka akan mengganggu komponen yang lainnya serta mengganggu kualitas
kinerja dari organisasi tersebut.[4] Sistem bukanlah “cara” atau
“metode” seperti yang banyak dikatakan orang. Cara hanyalah sebagian
kecil dari suatu sistem. Jadi yang dimaksud dengan sistem adalah sebagai
suatu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berhubungan untuk
mencapai tujuan tertentu.[5]
Pendekatan sitem (System Approach), adalah suatu proses yang dengan
kebutuhan diidentifikasi, problem dipilih, syarat-syarat pemecahan
problem diidentifikasi, pemecahan dipilih dari beberapa alternatif,
metode dan alat dicari dan diterapkan, hasil evaluasi, dan revisi yang
diperlukan terhadap seluruh bagian dari sistem tersebut dilaksanakan,
sedemikian rupa sehingga kebutuhan dapat tercapai.[6]
Makna sistem dalam pembelajaran berarti adanya pemahaman atau asumsi
guru bahwa pembelajaran harus didukung oleh berbagai elemen secara utuh
dan komprehensif, meninggalkan salah satu elemen akan menimbulkan
kegagalan proses pembelajaran. Artinya dalam pembelajaran guru tidak
cukup hanya menguasai materi saja, guru juga tidak cukup hanya pandai
menggunakan media dan metode saja, tetapi guru harus benar-benar mampu
melaksanakan semua faktor yang ada dalam pembelajaran secara
komprehensif.[7]
Pengajaran sebagai suatu sistem merupakan suatu pendekatan pengajar yang
menekankan hubungan sistematik antara berbagai komponen dalam
pengajaran. Hubungan sistematik mempunyai arti bahwa komponen yang
terpadu dalam suatu pengajaran sesuai dengan fungsinya saling
berhubungan satu sama lain dan membentuk kesatuan. Hubungan sistematik
atau penekanan kepada sistem, merupakan ciri pertama dari pengajaran
ini. Ciri kedua adalah penekanan kepada perilaku yang dapat di ukur atau
di amati.[8]
B. Unsur-unsur Sistem
Keberadaan unsur dalam sistem memiliki kedudukan yang sangat penting.
Agar perencanaan dalam sebuah sistem dapat berjalan dengan baik, maka
diperlukan unsur-unsur yang harus ada didalamnya, berikut unsur-unsur
dalam suatu sistem yaitu:
1. Input (masukan) yaitu unsur-unsur yang sumber-sumbernya diterapkan atau dimanfaatkan, misalnya: sumber, biaya, personal.
2. Output (keluaran) yaitu hasil konversi dari proses suatu sistem, misalnya: hasil, produk atau keuntungan.[9]
Adapun unsur-unsur dalam sistem pembelajaraan yaitu:
1. Siswa
Proses pembelajaran pada hakikatnya diarahka untuk membelajarkan siswa
agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian, maka
proses pengembangan dan desain pembelajaran, siswa harus dijadikan pusat
dari segala kegiatan. Artinya keputusan-keputusan yang diambil dalam
perencanaan dan desain pembelajaran disesuaikan dengan kondisi siswa
yang bersangkutan, baik sesuai dengan kemampuan dasar, minat dan bakat,
motivasi belajar, dan gaya belajar siswa itu sendiri.
2. Tujuan
Tujuan adalah unsur terpenting dalam pembelajaran setelah unsur siswa
sebagai subyek belajar. Tujuan penyelenggaraan pendidikan diturunkan
dari visi dan misi lembaga pendidikan itu sendiri. Misalnya,
a. Melatih siswa agar memiliki kemampuan tinggi dalam bidang tertentu
b. Mengajarkan keterampilan dasar bagi siswa
c. Memberikan jaminan agar menjadi lulusan tenaga kerja yang
efektif dalam bidang tertentu, memiliki kreativias yang tinggi dan
sebagainya.
Adapun tujuan yang bersifat khusus yang direncanakan oleh guru meliputi:
a. Pengetahuan, informasi, serta pemahaman sebagai bidang kognitif
b. Sikap dan apresiasi, sebagai tujuan bidang afektif
c. Berbagai kemampuan sebagai bidang psikomotorik.
Dalam konteks pembelajaran, tujuan khusus dirumuskan sebagai teknik untuk mencapai tujuan pendidikan.
3. Kondisi
Kondisi adalah berbagai pengalaman belajar yang dirancang agar siswa
dapat mencapai tujuan khusus seperti yang telah dirumuskan. Pengalaman
belajar harus mendorong siswa aktif belajar baik secara fisik maupun
nonfisik. Merencanakan pembelajaran salah satunya adalah menyediakan
kesempatan pada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya
sendiri.
4. Sumber-sumber belajar
Sumber belajar berkaitan dengan segala yang memungkinkan siswa dapat
memperoleh pengalaman belajar. Didalamnya meliputi lingkungan fisik
seperti tempat belajar, bahan dan alat yang dapat digunakan, personal
seperti guru, petugas perpustakaan dan ahli media, dan siapa saja yang
berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung untuk keberhasilan dalam
pengalaman belajar.
5. Hasil belajar
Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan
sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan. Dengan demikian, tugas
utama guru dalam kegiatan ini adalah merancang instrumen yang dapat
mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai tujuan
pembelajaran. Berdasarkan data tersebut guru dapat mengembangkan dan
memperbaiki program pembelajaran.[10]
Unsur merupakan sinonim kata komponen. Dilihat dari fungsinya setiap
komponen ada yang bersifat integral dan ada unsur yang tidak integral.
1. Unsur integral adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari
keberadaan sistem itu sendiri. Misalnya komponen siswa dan guru. Kita
akan sulit menganggap bahwa sekolah itu ada manakala di sekolah itu
tidak ada siswa yang diajar atau tidak ada guru yang mengajar.
2. Komponen tidak integral adalah kmponen pelengkap. Artinya,
walaupun komponen itu tidak ada, maka tidak akan memengaruhi keberadaan
suatu sistem, walaupun mungkin akan mengganggu perjalanan sistem itu
sendiri. Misalnya komponen perpustakaan dalam suatu lembaga sekolah.
Walaupun sekolah tidak memiliki perpustakaan, akan tetapi tidak akan
menggoyahkan keberadaan sekolah tersebut.[11]
C. Ciri-ciri Sistem
Dari pengertian sistem yang telah dijabarkan di atas dapat diambil ciri utama suatu sistem, yaitu:
1. Setiap sistem memiliki tujuan
Setiap sistem pasti memiliki tujuan. Tujuan manusia sebagai organisme
adalah agar dapat melaksanakan tugas kehidupannya. Tujuan keberadaan
lembaga pendidikan adalah agar dapat melayani setiap anak didik untuk
mencapai setiap tujuan pendidikannya. Jadi dengan demikian, setiap
sistem memiliki tujuan yang pasti. Tujuan itulah yang menggerakkan
sistem.
2. Setiap sistem memiliki fungsi
Untuk mencapai tujuan, setiap sistem memiliki fungsi tertentu. Misalnya,
agar manusia dapat melaksanakan tugas kehidupannya. Adapun agar proses
pendidikan berjalan dan dapat mencapai tujuan secara optimal diperlukan
fungsi perencanaan, fungsi administrasi, fungsi kurikulum, fungsi
bimbingan, dan lain sebagainya. Fungsi inilah yang terus menerus
berproses hingga tercapainya tujuan.
3. Setiap sistem memiliki komponen
Untuk melaksanakan fungsi-fungsinya tiap sistem pasti memiliki
komponen-komponen yang satu sama lain saling berhubungan. Agar fungsi
perencanaan dapat berjalan dengan baik diperlukan komponen silabus dan
RPP, agar fungsi administrasi dapat menunjang keberhasilan sistem
pendidikan diperlukan komponen administrasi kelas, administrasi siswa,
administrasi guru, dan lain sebagainya. Agar kurikulum berfungsi sebagai
alat pendidikan diperlukan komponen tujuan, isi atau meteri pelajaran,
strategi pembelajaran serta komponen evaluasi pembelajaran. Sebagai
suatu sistem setiap komponen harus dapat melaksanakan fungsinya dengan
tepat.[12]
Jenis-jenis sistem bisa ditinjau dari aspek-aspek tertentu. Dalam hal
ini hanya ditinjau dari aspek yaitu aspek terbuka (suatu sistem yang
dapat menerima input dari luar sistem, misal berupa informasi dari
luar)[13] dan tertutup yang berarti kebalikan dari aspek terbuka.
Perencanaan pendidikan berkaitan dengan sistem terbuka. Oleh sebab itu
yang dibahas adalah sistem terbuka. Berikut ini ciri-ciri sistem
terbuka:
1. Mengimport energi, materi, dan informasi dari luar. Pendidikan
akan mendatangkan pengajar atau pendidik, uang, alat-alat belajar, para
siswa/ mahasiswa dan sebagainya dari luar sekolah dan erguruan tinggi.
2. Memiliki proses pendidikan akan memproses para siswa/ mahasiswa
sebagai bahan mentah dalam proses belajar mengajar untuk menjadi bahan
jadi beupa lulusan-lulusan.
3. Menghasilkan output atau mengeksport materi, energi, dan informasi.
4. Merupakan kejadian yang berantai, input diproses mengeluarkan output.
5. Memiliki negatif entropy, yaitu suatu usaha untuk menahan
kepunahan dengan cara membuat import lebih besar daripada eksport.
6. Mempunyai alur informasi sebagai umpan balik untuk memperbaiki diri.
7. Ada kestabilan yang dinamis.
8. Memiliki diferensi yaitu spesialisasi-spesialisasi.
9. Ada prinsip equifinalty yaitu banyak jalan untuk mencapai tujaan
yang sama. Pemerintah memberi kesempatan kepada pendidik untuk
berkreasi menciptakan cara-cara yang lebih baik dalam usaha memajukan
pendidikan.[14]
D. Aplikasi Unsur-unsur dan Ciri-ciri Sistem dalam Pembelajaran PAI
Unsur-unsur serta ciri sistem pasti ada dalam suatu sistem, karena
adanya sistem tidak akan lepas dari unsur dan ciri tersebut. Aplikasi
dalam pembelajaran berarti suatu proses untuk menerapkan makna sistem
dalam proses pembelajaran. Aplikasi dalam pembelajaran mengandung makna:
1. Adanya pemahaman secara utuh, komprehensif dan terpadu, bahwa
proses pembelajaran itu sangat tergantung dari berbagai elemen, jika
salah satu elemen terganggu atau rusak maka akan mengganggu keberhasilan
proses pembelajaran. Dengan demikian guru mampu memberdayakan seluruh
elemen yang ada dalam pembelajaran.
2. Adanya sifat dan sikap keterbukaan yang dimiliki guru dan siswa,
yaitu adanya kesediaan untuk menerima kritik atau informasi dari luar,
kita harus menerima kritik atau masukan dari pendapat orang lain. Jika
merasa dirinya benar dan orang lain salah maka sistem tidak akan bisa
diterapkan dalam proses pembelajaran.
Jika berfikir sistem diterapkan dalam pembelajaran, maka seorang guru harus melakukan beberapa langkah sebagai berikut:
1. Merumuskan tujuan pembelajaran (tujuan instruksional). Tujuan
adalah suatu rencana atau rumusan yang akan diperoleh. Rumusan tujuan
akan sangat membantu guru dalam menentukan arah atau strategi dalam
pembelajaran. Dengan demikian, menentukan tujuan pembelajaran berarti
menentukan arah tentang proses pembelajaran
2. Melakukan proses pengumpulan data dan proses analisisnya. Data
yang dikumpulkan adalah data menyangkut tentang (a) anak didik yang
meliputi kemampuan awalnya (entry behavior), tingkat perhatian, kualitas
motivasi, konsentrasi, kedisiplinan, latar belakang sosial, ekonominya.
(b) data tentang materi pelajaran (mata pelajaran) yang meliputi jenis
materinya baik bersifat logika, etika, dan lain-lain. (c) data tentang
guru yang meliputi masalah kompetensi kepribadian, sosial, profesional
dan pedagogik, gaya yang dilakukan dalam mengajar, cara mengevaluasi,
kemampuan pengelola kelas dan kemampuan memahami landasan kependidikan.
(d) data tentang sistem kepemimpinan yang meliputi pola dalam menyusun
perencanaan, cara dalam mengidentfikasi permasalahan, cara mengambil
keputusan. Seluruh data tersebut dianalisis sehingga nantinya dapat
dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran.
3. Hasil analisis terhadap data tersebut di atas, kemudian
dijadikan dasar atau landasan guru dalam menyusun materi dan melakukan
proses pembelajaran agar proses pembelajaran benar-benar berjalan secara
efektif dan efisien. [15]
Dalam pembelajaran PAI, misalkan seorang guru dalam menentukan materi
atau sistem pembelajaran yang akan di terapkan kepada murid-muridnya,
hendaknya seorang guru mengetahui karakter muridnya dan mengetahui
meteri yang akan di ajarkan sehingga materi dapat terserap oleh murid
dan pembelajaran berjalan secara efektif.
Salah satu unsur dari sistem yaitu tujuan. Dalam pembelajaran PAI pun
tidak terlepas dari yang namanya tujuan. Adapun tujuan Pendidikan Agama
Islam (PAI) yaitu bertujuan meningkatkan keimanan pemahaman,
penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga
menjadi manusia Muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta
berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih
tinggi.
Fungsi pengajaran Agama Islam yaitu:
1. Pengembangan: yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
2. Penyaluran: yaitu untuk menyalurkan peserta didik yang memiliki
bakat khusus di bidang agama agar bakat tersebut dapat berkembang
optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat pula
bermanfaat untuk orang lain
3. Perbaikan: yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan,
kekurangan-kekuranan pemahaman dalam ajaran agama Islam dalam kehidupan
sehari-hari.
4. Pencegahan: yaitu untuk mengkal hal-hal negatif dari lingkungan
peserta didik atau dari budaya lain yang dapat membahyakan dan
menghambat perkembangan dirinya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
5. Penyesuaian: yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya,
baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah
lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.
6. Sumber nilai: yaitu memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
7. Pengajaran: yaitu untuk menyampaikan pengetahuan keagamaan yang fungsional.[16]
Dalam undang-undang SISDIKNAS No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan
nasional menyatakan bahwa “pendidikan nasional berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepaa tuhan yang maha esa, berahlak mulia, sehat ,berilmu,
cakap, kreatif, mandiri ,dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.”
Menurut tafsir (2002), bagi umat islam dan khususnya dalam pendidikan
islam, kompetensi iman dan taqwa serta memiliki akhlak mulia tersebut
sudah lama disadari kepentinganya, dan sudah diimplementasikan dalam
lembaga pendidikan islam. dalam pandanngan islam, peran kekholifahan
manusia dapat direalisasikan melalui tiga hal yaitu:
1. Landasan yang kuat berupa iman dan takwa
2. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
3. Akhlak mulia
Dari beberapa pendapat diatas, maka pendekatan sistem pengajaran PAI
adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang saling berintegrasi ,
saling berfungsi secara kooperatif dan saling mempengaruhi dalam rangka
mewujudkan generasi-generasi yang berwawasan luas beriman dan bertakwa
serta memiliki akhlak yang mulia.[17]
Label:
Pembelajaran
21.20
Pada mulanya seni musik daerah jambi merupakan seni musik yang masih
bersifat tradisional. Namun seiring perkembangan zaman, maka alat-alat
musik sudah banyak banyak memakai alat-alat musik modern. Akan tetapi
alat-alat musik tradissional masih dipergunakan. Bahkan berusaha untuk
dipertahankan.
Jenis-jenis alat musik tradisional Jambi yang masih dipertahankan sampai saat ini adalah sebagai berikut:
a. Genggong
b. Gendang
c. Tabuh
d. Rebana
e. Krenong
f. Kelintang
Seni Suara
Pada setiap kabupaten dan kota mempunyai ragam seni suara dengan syair dan khas daerah masing-masing, namun sesuainamun seni suatu daerah kini semakin usang dan tidak dikenal, karena telah dilanda dengan kehadiran lagu-lagu dangdut dan lagu pop. Namun demikian setiap daerah berusaha untuk kembali menghidupkan lagu-lagu daerah tersebut melalui rekaman, sehingga diharapkan nantinya dapat kembalai hidup dan dikenal oleh masyarakat
Beberapa jenis seni suara dari tiap-tiap daerah sebagai berikut:
1. Kota Jambi
a. Lagu Sekapur Sirih
b. Lagu Orang Kayo Hitam
c. Lagu Keris Seginjai
2. Kabupaten Batang Hari Dan Kabupaten Muaro Jambi
a. Lagu Batanghari
b. Lagu Nasib Badan
c. Lagu Merusak Hati
3. Kabuapaten Tanjung Jabung Timur Dan Tanjung Jabung Barat
a. Lagu Nelayan
b. Lagu Nasib Badan
c. Lagu Senandung Malam
4. Kabupaten Bungo Dan Kabupaten Tebo
a. Lagu Serampang Laut
b. Lagu Tumbuk Tebing
c. Lagu Pisang Dayak
5. Kabupaten Merangin Dan Kabupaten Sarolangun
a. Lagu Dagang Menumpang
b. Lagu Dendang Sayang
c. Lagu Ujung Tanjung
6. Kabupaten Kerinci
a. Lagu Tanjung Bajure
b. Lagu Tus-Tus
c. Lagu Bukasi Sayang
Pembelajaran Musik Tradisional Jambi
Written By MI Ma'arif NU Karangnangka on Kamis, 24 Oktober 2013 | 21.20
Pada mulanya seni musik daerah jambi merupakan seni musik yang masih
bersifat tradisional. Namun seiring perkembangan zaman, maka alat-alat
musik sudah banyak banyak memakai alat-alat musik modern. Akan tetapi
alat-alat musik tradissional masih dipergunakan. Bahkan berusaha untuk
dipertahankan.
Jenis-jenis alat musik tradisional Jambi yang masih dipertahankan sampai saat ini adalah sebagai berikut:
a. Genggong
b. Gendang
c. Tabuh
d. Rebana
e. Krenong
f. Kelintang
Seni Suara
Pada setiap kabupaten dan kota mempunyai ragam seni suara dengan syair dan khas daerah masing-masing, namun sesuainamun seni suatu daerah kini semakin usang dan tidak dikenal, karena telah dilanda dengan kehadiran lagu-lagu dangdut dan lagu pop. Namun demikian setiap daerah berusaha untuk kembali menghidupkan lagu-lagu daerah tersebut melalui rekaman, sehingga diharapkan nantinya dapat kembalai hidup dan dikenal oleh masyarakat
Beberapa jenis seni suara dari tiap-tiap daerah sebagai berikut:
1. Kota Jambi
a. Lagu Sekapur Sirih
b. Lagu Orang Kayo Hitam
c. Lagu Keris Seginjai
2. Kabupaten Batang Hari Dan Kabupaten Muaro Jambi
a. Lagu Batanghari
b. Lagu Nasib Badan
c. Lagu Merusak Hati
3. Kabuapaten Tanjung Jabung Timur Dan Tanjung Jabung Barat
a. Lagu Nelayan
b. Lagu Nasib Badan
c. Lagu Senandung Malam
4. Kabupaten Bungo Dan Kabupaten Tebo
a. Lagu Serampang Laut
b. Lagu Tumbuk Tebing
c. Lagu Pisang Dayak
5. Kabupaten Merangin Dan Kabupaten Sarolangun
a. Lagu Dagang Menumpang
b. Lagu Dendang Sayang
c. Lagu Ujung Tanjung
6. Kabupaten Kerinci
a. Lagu Tanjung Bajure
b. Lagu Tus-Tus
c. Lagu Bukasi Sayang
Label:
Pembelajaran
07.28
Di Malaysia , tarian piring dipersembahkan ketika majelis perkawinan terutama bagi keluarga berada, bangsawan dan hartawan di sebuah kampung. Tarian ini biasa dilihat di kawasan Seremban, Kuala Pilah dan Rembau oleh kumpulan tertentu. Ada yang dipersembahkan dengan pakaian lengkap dan pakaian tarian tidak lengkap. Sedikit bayaran akan dikenakan jika menjemput kumpulan tarian ini mempersembahkan tarian piring. 10 - 20 menit diperuntukkan untuk persembahan tarian ini.
Pembelajaran Tari Piring
Written By MI Ma'arif NU Karangnangka on Selasa, 22 Oktober 2013 | 07.28
Pada awalnya, Tari Piring
ini merupakan ritual ucapan rasa syukur masyarakat setempat kepada dewa-dewa
setelah mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah. Ritual dilakukan dengan
membawa sesaji dalam bentuk makanan yang kemudian diletakkan di dalam piring
sembari melangkah dengan gerakan yang dinamis.
Setelah masuknya agama Islam ke Minangkabau, tradisi Tari Piring tidak lagi digunakan sebagai ritual ucapan rasa syukur kepada dewa-dewa. Akan tetapi, tari tersebut digunakan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat banyak yang ditampilkan pada acara-acara keramaian.
Setelah masuknya agama Islam ke Minangkabau, tradisi Tari Piring tidak lagi digunakan sebagai ritual ucapan rasa syukur kepada dewa-dewa. Akan tetapi, tari tersebut digunakan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat banyak yang ditampilkan pada acara-acara keramaian.

Di Malaysia , tarian piring dipersembahkan ketika majelis perkawinan terutama bagi keluarga berada, bangsawan dan hartawan di sebuah kampung. Tarian ini biasa dilihat di kawasan Seremban, Kuala Pilah dan Rembau oleh kumpulan tertentu. Ada yang dipersembahkan dengan pakaian lengkap dan pakaian tarian tidak lengkap. Sedikit bayaran akan dikenakan jika menjemput kumpulan tarian ini mempersembahkan tarian piring. 10 - 20 menit diperuntukkan untuk persembahan tarian ini.

Tarian piring dan silat
dipersembahkan di hadapan mempelai di luar rumah. Majelis perkawinan atau
sesuatu apa-apa majlis akan lebih meriah jika diadakan tarian piring. Namun
begitu, segelintir masyarakat tidak dapat menerima kehadiran kumpulan tarian
kerana dianggap ada percampuran lelaki dan perempuan. Bagi mengatasi masalah
itu, kumpulan tarian disertai hanya gadis-gadis sahaja.
Kira-kira 8 (delapan) abad yang lalu, Tari Piring telah ada di wilayah kehulauan Melayu. Tari Piring identik dengan Sumatera Barat. Hingga masa kerajaan Sri Vilaya, eksistensinya masih ada bahkan semakin mentradisi. Pada saat masa-masa kejayaan kerajaan Majapahitlah, tepatnya abad ke-16, kerajaan Sri Vijaya dipaksa jatuh.
Kira-kira 8 (delapan) abad yang lalu, Tari Piring telah ada di wilayah kehulauan Melayu. Tari Piring identik dengan Sumatera Barat. Hingga masa kerajaan Sri Vilaya, eksistensinya masih ada bahkan semakin mentradisi. Pada saat masa-masa kejayaan kerajaan Majapahitlah, tepatnya abad ke-16, kerajaan Sri Vijaya dipaksa jatuh.
Namun demikian, Tari Piring
tidak lantas ikut lenyap. Bahkan, Tari Piring mengalami perkembangan ke
wilayah-wilayah Melayu lain seiring hengkangnya pengagum setia Sri Vijaya.
Bergantinya pelaku peradaban memaksa adanya perubahan konsep, orientasi dan
nilai pada Tari Piring.
Pada awalnya Tari Piring
diperuntukkan buat sesembahan para dewa, dibarengi dengan penyediaan sesaji
dalam bentuk makanan yang lezat-lezat. Tarian ini dibawakan oleh beberapa
perempuan yang dengan penampilan khusus, berbusana indah, sopan, tertib, dan
lemah lembut.
Dalam perjalanannya,
orientasi atau tujuan sesembahan Tari Piring bergeser drastis. Ketika Islam
datang, orientasi penyajian tidak lagi tertuju pada para dewa, namun
dipersembahkan kepada para raja dan pejabat, khususnya saat ada pertemuan atau
forum khusus dan istimewa lainnya. Selain itu, Tari Piring juga semakin populer
dan tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan elit tertentu.
Tidak cukup sampai disitu,
perubahan orientasi terus dilakukan. Arti dan makna Tari Piring diartikan
secara agak luas. Dalam konteks ini, raja tidak harus kepala negara atau
pemimpin kekusaan politik pada rakyatnya, tapi bisa dianalogikan dengan
sepasang pengantin. Sang pengantin adalah raja, yaitu “raja sehari”. Karena
itulah tradisi Tari Piring kerap dipersembahkan dihadapan “raja sehari”
(pengantin) saat bersanding dipelaminan dalam acara walimatul ‘arsy.

Tari Piring atau dalam
bahasa Minangkabau disebut dengan Tari Piriang, adalah salah satu jenis Seni
Tari yang berasal dari Sumatra Barat yaitu masyarakat Minangkabau disebut
dengan Tari Piring karena para penari saat menari membawa piring.
Pada awalnya dulu kala Tari Piring diciptakan untuk memberi persembahan kepada para dewa ketika memasuki masa panen, tapi setelah datangnya agama islam di Minangkabau Tari Piring tidak lagi untuk persembahan para dewa tapi ditujukan bagi majlis-majlis keramaian yang dihadiri oleh para raja atau para pembesar negeri, Tari Piring juga dipakai dalam acara keramaian lain misalnya seperti pada acara pesta perkawinan.
Pada awalnya dulu kala Tari Piring diciptakan untuk memberi persembahan kepada para dewa ketika memasuki masa panen, tapi setelah datangnya agama islam di Minangkabau Tari Piring tidak lagi untuk persembahan para dewa tapi ditujukan bagi majlis-majlis keramaian yang dihadiri oleh para raja atau para pembesar negeri, Tari Piring juga dipakai dalam acara keramaian lain misalnya seperti pada acara pesta perkawinan.
Mengenai waktu kemunculan
pertama kali Tari Piring ini belum diketahui pasti, tapi dipercaya bahwa Tari
Piring telah ada di kepulaian melayu sejak lebih dari 800 tahun yang lalu. Tari
Piring juga dipercaya telah ada di Sumatra barat dan berkembang hingga pada
zaman Sri Wijaya. Setelah kemunculan Majapahit pada abad ke 16 yang menjatuhkan
Sri Wijaya, telah mendorong Tari Piring berkembang ke negeri-negeri melayu yang
lain bersamaan dengan pelarian orang-orang sri wijaya saat itu.

Label:
Pembelajaran
19.49
Masalah Remaja Pada Pembelajaran
Written By MI Ma'arif NU Karangnangka on Sabtu, 12 Oktober 2013 | 19.49

Masalah remaja pada pembelajaran diantaranya :
Ada dua golongan besar yang termasuk faktor luar yang mempengaruhi manusia. Dua golongan itu ialah golongan organis, yaitu manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, dan golongan anorganis, termasuk didalamnya adalah keadaan alam dan benda-benda.
Ada dua golongan besar yang termasuk faktor luar yang mempengaruhi manusia. Dua golongan itu ialah golongan organis, yaitu manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, dan golongan anorganis, termasuk didalamnya adalah keadaan alam dan benda-benda.
Ini semua ikut memberi warna dalam perkembangan seseorang. Oleh karena
itu sikap seseorang anak kota berlainan dengan anak desa. Bukan
perbedaan kualitas dan yang lainnya, melainkan hanya berbeda dalam
bentuk atau gambarnya. Perbedaan ini disebabkan oleh factor dalamnya.
Suatu contoh: Pada suatu hari, di sebuah desa kedatangan seseorang dari
kota, yang berpakaian rapi, mencari burung dengan senjata angin, dengan
naik mobil dan membeli apa saja yang dapat dibeli untuk oleh-oleh.
Kedatangan orang itu membawa pengaruh banyak sekali kepada anak-anak
desa itu. Yang seorang tertarik dengan pakaiannya yang rapi, sehingga
anak itu menjadi seorang gubernur, yang seorang lagi tertarik oleh
senapannya, akhirnya anak itu tumbuh menjadi seorang jendral, yang
seorang lagi tertarik oleh uangnya yang banyak, sehingga akhirnya anak
itu tumbuh menjadi lintah darat, dan sebagainya.
Dengan contoh di atas, mengertilah kiranya apa yang dimaksud oleh
WILLIAM STERN dengan teorinya itu. Dan inilah yang menyebabkan tidak
satupun seseorang yang sama dengan orang lain, dalam bentuk atau
gambarnya, sekalipun orang itu kembar dari sebuah telur.[1]
2. Faktor Dalam, Faktor Dasar (intern)
a. Perkembangan Seksualitas
Terbawa oleh perkembangan jasmani yang mendekati dalam masa remaja ini,
matang jugalah kelenjar-kelenjar kelamin dalam dirinya, baik bagi anak
putri maupun bagi anak putra. Hal ini menumbuhkan adanya desakan-desakan
baru didalam jiwa si anak, yaitu desakan yang menghendaki layanan
seksualitas. Inilah sebabnya anak putra dan anak putri saling bersedia
kembali bekerjasama seperti sebelum berpisah pada fase pueral.
Kesediaan bekerjasama yang lebih mendalam (sampai pemenuhan kebutuhan)
rohani ini, menyebabkan keduanya saling menyelidik, sampai di manakah
kiranya seluruh kebutuhan ini dapat dilayani oleh lawan jenisnya ini.
Tentulah makin cepat mereka mendapatkan pelayanan berarti makin mudah
mendapatkan pemenuhan dan itu berarti kurang teliti dalam memilihnya.
Perkawinan semacam inilah yang sering menyebabkan perceraian, oleh
karena itu di kemudian hari ternyata pelayanan itu tidak menyeluruh.
Untuk mencegah agar hal-hal yang tidak dikehendaki semacam itu, perlu
diteliti terlebih dahulu, apakah pertumbuhan kepada lain jenis itu
disertai sikap saling hormat menghormati, harga menghargai dan saling
melindungi. Bila sifat-sifat itu juga didalamnya, dapat diharapkan bahwa
kebutuhan pemenuhan perkembangan seksualitas yang mendesak diri remaja
tersebut dapat bertemu didalam bentuk perkawinan yang bahagia.
b. Perkembangan Fantasi
Perkembangan fantasi ini, bermula pada fase kanak-kanak. Tetapi arah
perkembangannya berubah pada waktu fase remaja. Setelah menyaksikan
tumbuhnya tubuh yang lain dari biasanya pada lawan jenisnya. Melihat
itu, mereka saling berfantasi, oleh karena keduanya saling tidak
mengerti apakah faedahnya sebelum ia melakukan fungsinya yang
sebenarnya.
Si laki-laki bangga dengan kumisnya, tetapi ia tidak mengerti untuk
apakah sebenarnya kumis itu. Si wanita bangga dengan miliknya yang
menghiasi dadanya, tetapi ia pun belum mengerti faedahnya sebelum
kelahiran bayinya. Keduanya saling berfantasi, dan demikian suburlah
perkembangan fantasi remaja waktu itu. Dan inilah yang dipergunakan
sebagai modal untuk menulis surat dengan bunga-bunga bahasa yang
dirasakan bagus sekali untuk dinikmati. Inilah sebabnya mengapa masalah
cinta pertama yang sering sukar dihapuskan bekasnya bagi siapapun juga
yang mengalaminya.
c. Perkembangan Emosi
Perkembangan ini mulai nampak pada masa remaja fase negative. Pada saat
itu emosi remaja serba tidak menentu. Ia sangat gelisah tetapi ia tidak
mengerti, mengapa ia demikian resah, gelisah, sedih. Ia bersikap menolak
perintah, harapan, anjuran, maupun keinginan orang tua/gurunya, tetapi
ia tidak mengerti apa yang akan diperbuat setelah menolak semuanya itu.
Pada akhir fase ini, ia berusaha untuk menjadi pusat perhatian dari
lingkungannya. Ia bersikap egois, bahkan ia merasa serba super, sehingga
mau tidak mau lawan jenisnya tertarik, mengagumi dan akhirnya berserah
diri padanya. Darahnya mudah menggelora, ia adalah pemberani yang
kadang-kadang kurang perhitungan, tingkah lakunya kasar, penaik darah,
mudah tersinggung dan tidak takut mati. Ini semua hanya berlangsung
singkat, kemudian ia berkembang menjadi harmonis sedikit demi sedikit.
Ia mulai memuja sesuatu yang baik, apakah itu keadaan alam, sesuatu
hasil seni ataukah itu lawan jenisnya. Ia bersikap memuja, baik kepada
gurunya yang meghargai karyanya ataukah itu orang tuanya, yang memuji
kepandaiannya, apakah itu seorang gadis yang mengaguminya entah karena
apanyapun. Disinilah ia mulai menemukan akunya kembali. Ia mulai percaya
kepadanya dan makin harmonislah keadaannya.
d. Perkembangan Kemauan/keinginan
Perkembangan kemauan/keinginan ini sedikit demi sedikit berbelok kearah
yang dibutuhkan oleh desakan jasmani dan rohaninya waktu itu.
Kadang-kadang keinginan itu demikian mendesak menuntut pemenuhan,
sekalipun hanya berujud ketemu gadis pujaan. Inilah mengapwaktu
berpacaran, si pacar selalu ingin bertemu, untuk sekedar bertemu muka,
jalan-jalan, menonton dan sebagainya.
Tetapi kadang-kadang oleh karena terjadi hal-hal yang lebih mendesak
sebagai akibat daripada rangsangan yang kuat maka keinginan itu mudah
berkobar, sehingga tidak jarang terjadi hal-hal yang di luar dugaan.
Oleh karena itu sekalipun mereka mendapat kebebasan dari kedua orang
tua, namun harus disertai batas-batas kebebasan yang sesuai dengan norma
yang baik yang berlaku di masyarakat yang bermoral. Suasana ethis harus
diciptakan salama mereka saling bertemu dan orang tua menyaksikan
pertemuan itu meskipun hanya untuk sementara.
e. Perkembangan Estetika
Jika pada masa negatif, aspek estetika seakan-akan mengalami kemunduran,
maka pada masa-masa berikutnya, sedikit demi sedikit mulai bangun
kembali. Jiwa remaja menjelang dewasa ini telah mampu menghayati dunia
luar lebih mendalam, sehingga mampu meresapkan apa yang dilihat,
didengar dan dirasakannya yang mampu menggerakkan jiwanya.[2]
f. Perkembangan Religi
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral.
Bahkan sebagai mana dijelaskan oleh Adams dan Gullota (1983) agama
memberikan kerangka moral sehingga membuat seorang mampu membandingkan
tingkahlakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa
mamberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunua
ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman terutama bagi remaja yang
telah mencari eksistensi dirinya.[3]
Label:
Pembelajaran
09.01

Pengertian Media Pembelajaran
Written By MI Ma'arif NU Karangnangka on Kamis, 10 Oktober 2013 | 09.01

Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar.
Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar sehingga
dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan
mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan.
Sedangkan menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Kemudian menurut National Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
Posisi media pembelajaran.
Oleh karena proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan
berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi
yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran.
Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran
sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara
optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem
pembelajaran
Dari pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran
adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang
fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong
terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Menurut Edgar Dale, dalam dunia pendidikan, penggunaan media pembelajaran
seringkali menggunakan prinsip Kerucut Pengalaman, yang membutuhkan
media seperti buku teks, bahan belajar yang dibuat oleh guru dan
“audio-visual”.
Ada beberapa jenis media pembelajaran, diantaranya :
- Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
- Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
- Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
- Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.
Pada hakikatnya bukan media pembelajaran itu sendiri yang menentukan hasil belajar. Ternyata keberhasilan menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran
untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada (1) isi pesan, (2)
cara menjelaskan pesan, dan (3) karakteristik penerima pesan. Dengan
demikian dalam memilih dan menggunakan media, perlu diperhatikan ketiga
faktor tersebut. Apabila ketiga faktor tersebut mampu disampaikan dalam media pembelajaran tentunya akan memberikan hasil yang maksimal.
Tujuan menggunakan media pembelajaran :
Ada beberapa tujuan menggunakan media pembelajaran, diantaranya yaitu :
- mempermudah proses belajar-mengajar
- meningkatkan efisiensi belajar-mengajar
- menjaga relevansi dengan tujuan belajar
- membantu konsentrasi mahasiswa
- Menurut Gagne : Komponen sumber belajar yang dapat merangsang siswa untuk belajar
- Menurut Briggs : Wahana fisik yang mengandung materi instruksional
- Menurut Schramm : Teknologi pembawa informasi atau pesan instruksional
- Menurut Y. Miarso : Segala sesuatu yang dapat merangsang proses belajar siswa
Tidak diragukan lagi bahwa semua media itu perlu dalam pembelajaran.
Kalau sampai hari ini masih ada guru yang belum menggunakan media, itu
hanya perlu satu hal yaitu perubahan sikap. Dalam memilih media pembelajaran,
perlu disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing.
Dengan perkataan lain, media yang terbaik adalah media yang ada.
Terserah kepada guru bagaimana ia dapat mengembangkannya secara tepat
dilihat dari isi, penjelasan pesan dan karakteristik siswa untuk
menentukan media pembelajaran tersebut.
Label:
Pembelajaran
00.06
Nilai-Nilai Akhlakul Karimah yang dapat ditamankan pada siswa diataranya :
Pembelajaran Pengertian Akhlakul Karimah
Written By MI Ma'arif NU Karangnangka on Jumat, 20 September 2013 | 00.06
Akhlakul Karimah atau Akhlaq al Karimah atau disebut juga akhlak
islamiyah adalah suatu sistem akhlak yang berpedoman kepada Al Qur'an
dan Hadits. Dengan demikian kriteria baik dan buruknya suatu perbuatan
tidak lepas dari garis Al Qur'an dan Hadits (Mulyadi, 1997:9).
Akhlak juga sering disebut dengan tingkah laku, perangai, budi pekerti.
Menurut Yatimin Abdullah akhlakul karimah merupakan tanda kesempurnaan
iman seorang kepada Allah. Akhlakul karimah dilahirkan berdasarkan
sifat-sifat terpuji. (Yatimin Abdullah, 2007:40).
Nilai-Nilai Akhlakul Karimah yang dapat ditamankan pada siswa diataranya :
- Membiasakan anak untuk melaksanakan shalat berjamaah
- Membiasakan anak menegakkan sikap disiplin
- Membiasakan anak memelihara kebersihan
- Membiasakan anak menjaga ketertiban
- Membiasakan anak memelihara kejujuran
- Membiasakan anak memiliki sikap saling tolong menolong (Said Agil Husin, 2003:42)
Kebiasaan baik perlu ditanamkan kepada anak, sehingga kebiasaan yang
baik itu dapat melekat menjadi perilaku baik pada diri anak. akan tetapi
menanamkan kebiasaan baik pada anak memerlukan waktu dan memerlukan
kesabaran terlebih lagi ada faktor lingkungan yang juga sangat
berpengaruh pada perilaku anak. untuk itu perlunya pengawasan yang baik
agar sifat yang sudah tertanam baik tidak rusak oleh pengaruh luar yang
tidak baik.
Label:
Pembelajaran
00.24
Metode secara etimologi atau bahasa berasal dari bahasa Yunani "metodos" yang terdiri dari dua suku kata "metha" yang berarti melalui atau melewati dan "hodos" yang berarti jalan atau cara. Metode adalah jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. (Arif Armai, 2002:40).
Peran Metode Dalam Pembelajaran
Written By MI Ma'arif NU Karangnangka on Selasa, 30 Juli 2013 | 00.24
Sedangkan
menurut Poerwadarminta metode adalah cara yang teratur dan terpikir
baik-baik untuk mencapai maksud. (W.J.S. Poerwardaminta, 1976:649).
Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar. (UU Sisdiknas, 2003:400)
Jadi
metode pembelajaran dapat diartikan suatu cara yang telah terpikir
secara teratur yang digunakan pada proses pembelajaran guna mencapai
tujuan pembelajaran.
Menurut Tb. Bachtiar Rivai yang dikutip oleh Engkoswara mengemukakan 5 prinsip dalam memilih metode mengajar :
- Asas kemajuan berkelanjutan (continous progress) yang artinya memberi kemungkinan kepada murid untuk mempelajari sesuatu sesuai dengan kemampuannya.
- Penekanan pada belajar sendiri, artinya anak-anak diberi kesempatan untuk mempelajari dan mencari sendiri bahan pelajaran lebih banyak lagi dari pada yang diberikan oleh guru.
- Bekerja secara team, dimana anak-anak dapat mengerjakan sesuatu pelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja sama.
- Multidisipliner, artinya memungkinkan anak-anak untuk mempelajari sesuatu dengan meninjau dari berbagai sudut pandangan atau ilmu.
- Fleksibel, artinya dapat dilakukan menurut keadaan dan keperluan. (Engkoswara, 1988:46)
Untuk itu metode memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. Peran metode dalam pembelajaran diantaranya :
- Sebagai pedoman bagi guru dalam perencanaan pembelajaran
- Sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran
- Sebagai salah satu cara agar pembelajaran berlangsung secara menyenangkan
- Sebagai salah satu cara agar dengan pemilihan metode yang tepat materi pembelajaran dapat diterima oleh siswa dengan baik.
- Sebagai bahan untuk menilai ketuntasan hasil belajar dengan menggunakan suatu metode atau pemilihan sebuah metode pembelajaran
- Melihat pada materi yang akan disampaikan sehingga dapat menggunakan metode yang tepat
- Melihat situasi dan kondisi
- Memperkirankan tingkat efektivitasnya dan efisiensi dalam proses pembelajaran
- Menguasai metode yang akan dipakai dalam proses pembelajaran
- Disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran
Label:
Pembelajaran
20.53
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
2. Metode Diskusi
Metode study tour Study tour (karya wisata) adalah metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan hasil kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.
8. Metode Latihan Keterampilan
Metode Global yaitu suatu metode mengajar dimana siswa disuruh membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat mereka serap atau ambil intisaridari materi tersebut.
Metode Pembelajaran
Written By MI Ma'arif NU Karangnangka on Minggu, 28 Juli 2013 | 20.53
Pada dasarnya guru adalah seorang
pendidik. Pendidik adalah orang dewasa dengan segala kemampuan yang
dimilikinya untuk dapat mengubah psikis dan pola pikir anak didiknya
dari tidak tahu menjadi tahu serta mendewasakan anak didiknya. Salah
satu hal yang harus dilakukan oleh guru adalah dengan mengajar di kelas.
Salah satu yang paling penting adalah performance guru di kelas.
Bagaimana seorang guru dapat menguasai keadaan kelas sehingga tercipta
suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian guru harus menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya.
Tiap-tiap kelas bisa kemungkinan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda dengan kelas lain. Untuk itu seorang guru harus mampu menerapkan berbagai metode pembelajaran. Disini saya akan memaparkan beberapa metode pembelajaran menurut Ns. Roymond H. Simamora, M.Kep yang dapat kita digunakan.
Macam-Macam Metode pembelajaran :
1. Metode Ceramah
Metode pembelajaran ceramah
adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada
sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam
jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh Mc Leish (1976),
melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah,
guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
2. Metode Diskusi
Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi
saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam
pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka.
Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang
bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251).
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil
penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat
meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan
masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode
diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode
ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari
pada metode diskusi.
3. Metode Demonstrasi
Metode pembelajaran demontrasi
merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong siswa
mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana cara
mengaturnya? Bagaimana proses bekerjanya? Bagaimana proses
mengerjakannya. Demonstrasi sebagai metode pembelajaran adalah bilamana
seorang guru atau seorang demonstrator (orang luar yang sengaja diminta)
atau seorang siswa memperlihatkan kepada seluruh kelas sesuatau proses.
Misalnya bekerjanya suatu alat pencuci otomatis, cara membuat kue, dan
sebagainya.
Kelebihan Metode Demonstrasi :
a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.
b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.
Kelemahan metode Demonstrasi :
a. Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang diperagakan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.
Macam-Macam Metode pembelajaran
4. Metode Ceramah Plus
Metode Pembelajaran Ceramah Plus
adalah metode pengajaran yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni
metode ceramah yang dikombinasikan dengan metode lainnya. Ada tiga macam metode ceramah plus, diantaranya yaitu:
a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas
c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
5. Metode Resitasia. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas
c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
Metode Pembelajaran Resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.
Kelebihan Metode Resitasi adalah :
a. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
b. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, bertanggung jawab dan mandiri.
Kelemahan Metode Resitasi adalah :
a. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan yakni peserta didik hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
b. Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
c. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual.
a. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
b. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, bertanggung jawab dan mandiri.
Kelemahan Metode Resitasi adalah :
a. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan yakni peserta didik hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
b. Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
c. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual.
6. Metode Eksperimental
Metode pembelajaran eksperimental
adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di mana siswa melakukan
aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri suatu yang
dipelajarinya. Dalam metode ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami
sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses, mengamati
suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri
tentang obyek yang dipelajarinya.
7. Metode Study Tour (Karya wisata)Metode study tour Study tour (karya wisata) adalah metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan hasil kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.
8. Metode Latihan Keterampilan
Metode latihan keterampilan (drill method)
adalah suatu metode mengajar dengan memberikan pelatihan keterampilan
secara berulang kepada peserta didik, dan mengajaknya langsung ketempat
latihan keterampilan untuk melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan
manfaat sesuatu (misal: membuat tas dari mute). Metode latihan
keterampilan ini bertujuan membentuk kebiasaan atau pola yang otomatis
pada peserta didik.
9. Metode Pengajaran Beregu
Metode pembelajaran beregu
adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang
yang masing-masing mempunyai tugas.Biasanya salah seorang pendidik
ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya,setiap pendidik membuat
soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan maka setiapsiswa yang diuji
harus langsung berhadapan dengan team pendidik tersebut
10. Peer Theaching Method
Metode Peer Theaching sama juga dengan mengajar sesama teman, yaitu suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.
11. Metode Pemecahan Masalah (problem solving method)
Metode problem solving (metode pemecahan masalah)
bukan hanyasekadar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode
berpikir, sebabdalam problem solving dapat menggunakan metode-metode
lainnya yang dimulaidengan mencari data sampai pada menarik kesimpulan.
Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir danmenggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan olehsiswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk mencobamengeluarkan pendapatnya.
12. Project MethodMetode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir danmenggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan olehsiswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk mencobamengeluarkan pendapatnya.
Project Method
adalah metode perancangan adalah suatu metode mengajar dengan meminta
peserta didik merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai obyek
kajian.
13. Taileren Method
Teileren Method
yaitu suatu metode mengajar dengan menggunakan
sebagian-sebagian,misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi dengan
ayat lainnya yang tentusaja berkaitan dengan masalahnya
14. Metode Global (ganze method)Metode Global yaitu suatu metode mengajar dimana siswa disuruh membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat mereka serap atau ambil intisaridari materi tersebut.
Label:
Pembelajaran
22.58
Pengertian Sentra Ibadah di Taman Kanak-Kanak
Written By MI Ma'arif NU Karangnangka on Kamis, 25 Juli 2013 | 22.58
Sentra menurut kamus Bahasa Indonesia adalah pusat atau suatu yang dianggap sebagai pusat. Sedangkan Ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah SWT, yang didasari ketaatan mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. (Depdiknak, 2007:415)
Sentra Ibadah adalah pusat kegiatan pembelajaran dengan metode bermain sambil belajar. Integrasi pendidikan agama yang dirancang untuk mengembangkan seluruh potensi anak sebagai karunia dari Allah SWT. Setiap sentra memiliki tujuan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Oleh karena itu dalam merancang dan menata kegiatan bermain yang bermutu, seorang guru harus memperhatikan proses perkembangan anak baik dari segi materi, kegiatan, bahan-bahan, dan alat-alat bermain.
Pada setiap sentra, untuk setiap anak dikembangkan aspek perkembangan yaitu : nilai-nilai agama, kognisi, afeksi, bahasa, sosial, seni dan psikomotor.
Ruang Lingkup Sentra Ibadah menunggu updade salanjutnya : terima kasih.
Label:
Pembelajaran
22.54
Ruang Lingkup Sentra Ibadah di TK
Melanjutkan dari postingan terdahulu tentang pengertian sentra ibadah sekarang kami melanjutkan tentang ruang lingkup materi sentra ibadah
Ruang lingkup sentra ibadah secara garis besar terbagi atas :
- Aplikatif : pada dataran aplikatif ruang lingkupnya mulai dari kegiatan anak bangun tidur sampai mereka tidur kembali. Dapat dirinci lebih lanjut seperti : do'a bangun tidur, do'a masuk dan keluar kamar mandi, do'a ketika mau mengenakan pakaian, do'a bercermin, do'a sebelum dan sesudah makan dan lain-lain sampai do'a ketika mereka akan tidur malam. Pengetahuan nilai-nilai agama bersifat aplikatif dan berkategori praktek diantaranya : aturan memberi salam kepada kedua orang tua dan sesama manusia, aturan masuk tempat ibadah, khusus untuk TK islam yaitu praktek wudhu, sikap berdo'a, praktek shalat, praktek adzan dan iqomat dan lain sebagainya
- Enjoyeble : adapun materi yang bersifat enjoyeble diantaranya meteri pengembangan nilai-nilai agama yang bersifat sejarah atau cerita seperti cerita para malaikat, para nabi, para sahabat nabi dan sebagainya, sosiodrama tentang kisah-kisah keagamaan, pesan-pesan ajaran agama yang disajikan dengan bernyanyi atau lagu, praktek-praktek dengan bermain sebagai pengantarnya dan sebagainya.
- Mudah ditiru : Kualitas dan kuantitas materi pelajaran nilai-nilai agama, juga menjadi salah satu pertimbangan para guru dan orang tua, agar materi yang disajikan dapat dilakukan atau dipraktekkan sesuai kemampuan anak. Kurangnanya pertimbangan terhadap hal tersebut, akan mengakibatkan munculnya pembelajaran yang sia-sia atau kurang bermakna bagi anak itu sendiri. Pilihlah atau tentukanlah materi pembelajaran nilai-nilai agama yang sesuai dengan kemampuan fisik anak, dan karakter lahiriah anak. Hindari penyajian materi yang menyusahkan dan membuat anak malas untuk mengikutinya. Ruang lingkup tentang hal tersebut dapat diberikan seperti praktek peribadatan yang ringan seperti sikap berdo'a, sikap bersalaman, sikap makan, dan sebagainya
Label:
Pembelajaran
14.56
Daftar Isi
Label:
Berita,
Evaluasi,
Guru,
Keagamaan,
Kesehatan,
Kesenian,
Komite,
Olah Raga,
Pembelajaran,
Pengetahuan Agama,
Pengetahuan Umum,
Perangkat,
Pramuka,
Prestasi,
Profil,
Program,
Sarpras,
Siswa,
Teknologi,
Visi dan Misi
Perencanaan Pembelajaran
Pencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran ...






